RSS
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Masa lalu sebagai bahasa Melayu

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek "o" sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.
Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.
Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman karena serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu, belakangan masyarakat pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku Melayu Minangkabau) yang merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hingga ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas, tampak dalam prasasti Keping Tembaga Laguna.
Bahasa Melayu kuno yang berkembang di Bumi Melayu tersebut berlogat "o" seperti Melayu Jambi, Minangkabau, Kerinci, Palembang dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam Nagarakretagama disebut Hujung Medini artinya Semenanjung Medini.
Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke Semenanjung Malaysia (= Hujung Medini) dan lebih banyak lagi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (= Semenanjung Malaysia) yang akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi nyatalah bahwa istilah Melayu itui berasal dari Indonesia. Bahasa Melayu yang berkembang di sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".
Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512 sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.
Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.
Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto Melayu (Melayu Tua/Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun masa yang panjang sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu sebagai etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang sebenarnya didalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur etnis.
M. Muhar Omtatok, seorang Seniman, Budayawan dan Sejarahwan menjelaskan sebagai berikut: "Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa[10] dan Pulau Luzon.[11] Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya.[rujukan?] Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur".[12] Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).[13] Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman

[sunting] Bahasa Indonesia

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.[12] Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.[14] Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
"Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."[15]
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.[16]
SUMBER:http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia[1] dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.[2] Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu.[3] Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang)[4] dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan.[5] Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.[6] Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya,[7] sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.[8] Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu.[9
SUMBER:http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Menyenangkan

Ujian Nasional (UN) menjadi salah satu “momok” bagi para siswa, salah satunya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Persoalan ini bukan hanya melanda siswa SMP tetapi juga siswa SMA. Siswa cenderung “menyepelekan” mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka sering menganggap remeh dengan berpikir bahwa Bahasa Indonesia itu mudah. Tapi kenyataannya belum tentu demikian, bahkan nilai kelulusan rata-rata mata pelajaran Bahasa Indonesia termasuk rendah dibandingkan mata pelajaran yang lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah yang terkesan “monoton” dan membosankan. Selain faktor pembelajaran di sekolah, murid menganggap Bahasa Indonesia mudah karena merupakan bahasa nasional yang sudah biasa mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menanggapi hal itu, maka harus ada tindakan nyata untuk mengoptimalkan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas yang salah satunya dapat dilakukan oleh guru.
Pembelajaran yang ada sekarang biasanya bersifat memberi materi saja tanpa memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi atau melakukan praktek secara langsung agar mengerti. Siswa akan merasa bosan karena merasa hanya “dijejali” materi yang sering kali diberikan dengan metode ceramah. Sebelum guru memberikan materi, sebaiknya guru menciptakan suasana menyenangkan yang menjadikan siswa menyukai Bahasa Indonesia. Semua hal yang diawali dari senang menjadi suka berakhir dengan pemahaman yang tidak sekadar kewajiban.
Misalnya pada materi puisi, guru mengangkat tema cinta karena pada umumnya siswa sedang dalam masa pubertas. Siswa dipancing membuat puisi menurut pengetahuan mereka tentang cinta, mulai cinta pada keluarga, hingga lawan jenis. Rasa suka tersebut akan mempermudah siswa memahami materi tentang puisi.
Bukan hanya pada puisi, hal yang sama dapat dilakukan pada materi lainnya. Saat menerangkan materi penggunaan di sebagai kata depan atau awalan, guru dapat menggunakan lirik lagu “Di sini senang di sana senang” agar siswa mudah memahami materi. Tentunya siswa akan lebih tertarik belajar Bahasa Indonesia jika mereka juga diajak menyanyi, karena akan menghilangkan kebosanan. Dalam pembelajaran, jika seorang siswa sudah merasa bosan atau bahkan tidak memperhatikan materi yang diajarkan, guru hendaknya melakukan tindakan dengan bertindak kreatif. Tindakan tersebut seperti modifikasi metode pembelajaran, siswa bukan hanya belajar dalam kelas saja tetapi juga di luar kelas, menggunakan media lagu, video, dan gambar emotif,  semua itu akan meningkatkan minat belajar Bahasa Indonesia.
Jika semua guru Bahasa Indonesia dapat melakukan hal-hal yang mengubah paradigma siswa dari Bahasa Indonesia yang membosankan menjadi menyenangkan, maka diharapkan hasil UN Bahasa Indonesia mengalami peningkatan. Sebagai introspeksi, apakah Anda sudah melakukannya?
SUMBER:http://berkarya.um.ac.id/?p=5627

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ringkasan Buku Ayo Belajar Bahasa Indonesia

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Paket buku Ayo Belajar Bahasa Indonesia disusun dengan memperhatikan berbagai keprihatinan dan harapan. Sebagaimana diharapkan dalam kurikulum, paket buku ini diharapkan dapat mengantar peserta didik untuk lebih mampu: berkomunikasi secara efektif dan efisien, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, serta sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
SUMBER:http://book.store.co.id/Ayo_Belajar_Bahasa_Indonesia_Kelas_3_SD_buku_13141.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bahasa Indonesia

a.ayo membaca cerita
hari itu dewi sedih
ayahdewi pindah kerja ke papua
dewi harus berpisah
dari sinta sahabat dewi
ibu menjelaskan kepada dewi
dewi tak perlu sedih
dewi akan dapat teman baru
di sekolah baru nanti
satu keluarga selalu bersama
di Jakarta atau bali
kedua kota berada di Indonesia
2. ayo mendengarkan puisi
ciptaan at mahmud
memandang alam dari atas bukit
sejauh pandang kulepas
sungai tampak berliku
sawah hujau terbentang
bagai permadani di kaki langit
gunung menjulang
berpayung awn
oh indah pemandangan
3. ayo belajar bercerita
namaku …………
aku lahir di ……
pada tanggal …….
aku anak …… di keluargaku
ayahku berasal dari …..
ibuku berasal dari …
aku tinggal bersama …
SUMBER;http://blog.unnes.ac.id/nisrinacc26/2010/11/18/bahasa-indonesia-kelas-2-sd/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar Bahasa Indonesia

Dahulu, di TV ada pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau tidak salah yang mebawakannya adalah Yus Badudu. Sayang sekarang sudah tidak ada lagi, diganti dengan bahasa sinetron (yang ciri khasnya adalah marah-marah). Ha ha ha.
Sebagai orang Indonesia, kita sering beranggapan bahwa kita ini sudah mengerti bahasa Indonesia. Pada kenyataannya ternyata belum.
Saya sering (dan perlu saya pertegas lagi: SERING) diberi tugas untuk menilai tulisan, baik dalam bentuk tugas akhir, skripsi, makalah, proposal, tulisan lomba-lomba karya tulis, dan seterusnya. Yang membuat saya terkejut adalah banyaknya penulis yang belum mahir menggunakan bahasa Indonesia.
Mau tahu kesalahan yang paling sering terjadi? Jawabannya adalah penggunaan kata “di”. Hayo … ngaku. Anda juga sering salah menggunakan kata “di” itu kan? ha ha ha. Ada yang tahu kapan dia harus disambung dan dipisah dengan kata selanjutnya? Jangan-jangan kita semua nggak ada yang tahu. Halah.
Beberapa waktu yang lalu ada diskusi (atau lebih tepatnya debat) mengenai penggunakan tanda baca (titik dua, koma, titik, tanda seru, dan seterusnya). Pemahaman saya adalah tanda baca tersebut menyatu dengan kata sebelumnya. Jadi menurut saya yang benar adalah “antara lain:” bukan “antara lain :”. Jika dia dipisah, ada kemungkinan tanda baca tersebut sendirian pada satu baris (misalnya tidak cukup jika diletakkan di baris sebelumnya). Bagaimana menurut Anda?
Kesalahan yang lain juga banyak, seperti penggunaan kata serapan (asing) yang tidak tepat. Kadang pencampuran bahasa ini membuat saya gemes! Di tempat lain saya pernah menulis bahwa otak saya sudah “keracunan” pola berpikir asing, tapi saya masih berusaha keras untuk tidak mencampur-campurkan bahasa. Ah, orang yang seharusnya lebih bersih (karena tidak tercampur pola pikir asing) kok malah seenaknya dalam mencampuradukkan bahasa. Piye to iki?
Saya sendiri merasa bahasa Indonesia saya masih lemah. Kalau lagi bingung, biasanya tanya ke Amal. Ha ha ha. Ah, semestinya kita belajar lagi. Jangan karena merasa sudah menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari lantas otomatis pandai.
Ayo kita belajar bahasa Indonesia lagi? Bagaimana kita bisa menghargai budaya kita kalau bahasa Indonesia kita kacau balau? Silahkan sumbang URL situs-situs tentang bahasa Indonesia dan mengapa situs itu bagus menurut Anda
SUMBER;http://rahard.wordpress.com/2007/07/19/belajar-bahasa-indonesia/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

25 [SeBahasa] Ayo belajar bahasa Indonesia!

Rubrik SeBahasa membahas seputar Bahasa Indonesia sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Semoga rubrik ini bermanfaat bagi Anda.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan eIndonesia Selatan

Sebagai bangsa yang memiliki bahasa-bahasa lokal yang beraneka ragam, bahasa pemersatu amat diperlukan untuk menjamin kelancaran komunikasi antarwarga. Maka dari itu, bahasa Indonesia diresmikan penggunaanya di Tanah Air eIndonesia Selatan sejak Deklarasi eIndonesia Selatan pada 30 Juni 2010.



1. Abjad dalam bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia menggunakan abjad latin dalam penulisannya. Di bawah ini adalah daftar abjad yang digunakan beserta namanya.

(huruf besar) (huruf kecil) (nama)

A - a - a
B - b - be
C - c - ce
D - d - de
E - e - e
F - f - ef
G - g - ge
H - h - ha
I - i - i
J - j - je
K - k - ka
L - l - el
M - m - em

N - n -en
O - o - o
P - p - pe
Q - q - ki
R - r - er
S - s - es
T - t - te
U - u - u
V - v - ve
W - w - we
X - x - eks
Y - y - ye
Z - z - zet

2. Huruf-huruf vokal
Huruf-huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas a, e, i, o, dan u.

Contoh penggunaan huruf vokal dalam kata:
(huruf vokal) (di awal) (di tengah) (di akhir)

a - air - sapi - kota
e - emas - kena - tipe
/é/ - enak - petak - sore
i - ikan - itik - topi
o - orang - sopan - soto
u - uang - suka - susu

Tanda aksen dapat digunakan untuk mengajarkan lafal kata yang menimbulkan keraguan.
Misalnya:
* Pramuka mengadakan apel pagi sebelum menuju perkemahan (apél).
* Ibu sedang membuat jus apel di dapur.
= Sebelum pertandingan kita harus menyiapkan fisik dan mental (méntal).
= Bola yang ditepis kiper mental ke Budi.

3. Huruf-huruf konsonan
Huruf-huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Itulah perkenalan awal bahasa Indonesia.
sumber:http://www.erepublik.com/en/article/-sebahasa-ayo-belajar-bahasa-indonesia--1447866/1/20

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
 
Free Pen Purple Cursors at www.totallyfreecursors.com